Semangat Kewirausahaan

Diposting oleh : Garenk Punk | Dirilis : 5:43 PM | Series :


PENTINGNYA JIWA DAN SEMANGAT KEWIRAUSAHAAN
 
Sebelum masuk ke pembahasan kewirausahaan sebagaimana pengertian umum masyarakat,sebaiknya kita pahami terlebih dahulu pengertian kewirausahaan dalam arti luas. Awal pertanyaan yang muncul ialah, mengapa seorang wirausahawan ( entrepreneur ) mempunyai cara berfikir yang berbeda dari umumnya manusia. Mereka mempunyai motivasi pnggilan jiwa, persepsi dan emosi yng sangat terkait dengan nilai-nilai, sikap, dan perilaku sebagai manusia unggul.
Dengan mengetahui berbagai elemen yang mempengaruhi cara berfikir seorang wirausahawan, kita tidak akan terjebak dalam suatu polemik apakah karakter kewirausahaan itu bawaan lahir atuakah hasil dari suatu pembelajaran,tetapi lebih kepada harapan untuk dapat mempengaruhi dan mempercepat elemen kognitif tersebut. Jangan sampai kita berada pada dikotomi / dua dua perbedaan yang mencolok, mana yang lebih penting “ dasar” ( bakat bawaan lahir ) ataukah “ajar” ( dapat dipelajari).
Paling tidak ada tiga hal yang perlu kita ketahui terkait dengan cara berfikir, yang akhirnya menjadi perilaku seorang wirausahawan. Pertama mengenai persepsinya terhadap dunia nyata, cara memandang kehidupan dunia ini. Sementara ada yang mengagung agungkan dan ada pula yang meremehkan kehidupan dunia. Alhamdulillah kita mempunyai persepsi bahwa kehidupan dunia ini merupakan rangkaian kea rah kehidupan yang kekal abadi di alam akhirat nanti.

Kedua, tentang peta kognitifnya ( cognitive maps ), yang akan menuntun persepsinya melangkah ke perilaku kewirausahaan. Hal tersebut akan sangat di pengaruhi oleh keyakinan terhadap kemampuanya serta norma/ nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat, baik dimensi waktu maupun tempat. Suatu contoh, pandangan masyarakat jaman dulu apalagi didaerah pedesaan menganggap bahwa menjadi seorang pegawai, apalagi pegawai negeri itu lebih terhormatdaripada menjadi wirausahawan. Alhamdulillah pandangan tersebut sekarang sudah berubah.

Ketiga, terkait dengan motivasi yang pada dasarnya merupakan mesin yang menggeraka perilaku kewirausahaan. Sedangkan penggilan jiwa ( passion ) merupakan api yang membakar semangat kewira usahaan. Tanpa passion tidak aka nada semangat dalam mengerjakan apapun : Without passion work is just work. Untuk itu, bagi yang menjadi pekerja, karyawan, pegawai, supaya mempunyai daya kerja yang mantap,artinya mempunyai daya tawar yang kuat. Bagi yang menjalankan bisnis supaya mempunyai daya wirausaha yang tinggi sehingga mempunyai nilai tambah yang bermanfaat bagi orang lain.  Baik daya kerja maupun daya wirausaha pada dasarnya dalah implementasi dari jiwa dan semangat kewirausahaan.

Dengan demikian makna kewirausahaan ternyata sangat luas dan tidak harus terkait secara langsung dengan dunia bisnis. Selama aktivitasnya didasari oleh karakteristik yang unggul seperti percaya diri yang tinggi, berani ambil resiko, fleksible, pekerja keras dan cerdas, kreatif, keinginan untuk berprestasi, maupun keyakinan dalam mengendalikan segala aktivitas, mak orang tersebut dapat dikatakan mempunyai jiwa dan semangat kewirausahaan.

PENGERTIAN UMUM KEWIRAUSAHAAN

Walaupun dalam arti luas kewirausahaan mempunyai makna yang begitu banyak seperti tersebut diatas, Arus utama masyarakat memaknai kewirausahaan sebagai sesuatu yang terkait secara langsung dengan dunia bisnis. Dan akhir-akhir ini istilah tersebut menjadi semakin popular setelah semua pihak menyadari peran strategis kewirausahaan. Peran strategis tersebut tidak hanya dilihat dari kepentingan individu, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara, tetapi juga sampai pada kepentingan dunia internasional.

Kita tidak menyangka sebelumnya bahwa penerima hadiah nobel perdamaian dunia pada tahun 2006  bukanlah seorang ahli militer maupun politisi  melainkan  seorang ahli ekonomi yang menaruh perhatian pada pemberdayaan masyarakat kecil, yaitu Muhamad yunus dari bangladesh. Nampaknya dunia internasional menyadari bahwa, pengangguran, kemiskinan dan ketidak adilan social, sangat berkaitan erat dengan keamanan dan kedamaian dunia internasional.
Kepentingan bagi individu dan keluarga sangat jelas, bahwa berwirausaha pada hakekatnya adalah mengangkat harkat dan martabat diri dan keluarganya. Seseorang yang mandiri secara ekonomi akan terangkat harkat dan martabatnya. Sedangkan bagi kepentingan masyarakat , dengan semakin banyaknya anggota masyarakat yang berwirausaha diharapkan dampak sosialnya akan positif, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan sekaligus mengurangi dampak negatif dari pengangguran dan kemiskinan.
Selanjutnya apabila dilihat dari kepentingan bangsa dan Negara, kewirausahaan ternyata mempunyai peran yang sngat dominan. Sampai-sampai seorang psikolog menyatakan bahwa suatu Negara akan sejahtera apabila dari total penduduknya paling tidak ada 2% yang berwirausaha. Argumentasinya jelas bahwa dari 2% saja yang berwira usaha dampaknya akan kemana-mana, termasuk masalah pengangguran, kemiskinan, dan pertumbuhan ekonomi. Sebagai informasi saja sampai saat ini Indonesia baru mencapai angka sekitar 0,2%. Hal ini merupakan tantangan bagi kita semuauntuk mencapai angka minimal 2% wirausahawan. Itulah latar belakang mengapa upaya pengembangan kewirausahaan itu menjadi penting dan mendesak.

Bagaimana makna dan sejarah kewirausahaan secara umum? Kewirausahaan ( entrepreneurship ) berasal dari bahasa perancis, entreprendre yang artinya to undertake, mengusahakan atau mengupayakan. Dalam bahasa Indonesia Wira berarti berani ( berani mengambil resiko ) dan usaha berarti melakukan upaya. Dari sejarahnya, entrepreneur berarti perantara, yang memenuhi kebutuhan orang lain. Kemudian pengertian berkembang menjadi seseorang yang mempunyai proyek besar. Baru pada abad XVII, mulai dimasukan unsure resiko dan keuntungan ( risk and return ), dimana antara seorang wirausahawan ada kalkulasi antara resiko yang akan diambil dengan potensi keuntungan yang akan diperoleh.

Dalam filosofi jawa dijelaskan; yen awakmu tak wenehi tape bok pangan sedino entek, yen kowe tak ajari gawe tape, kowe iso ngerti carane.
Yang artinya: jika kamu saya beri tape maka dalam waktu sehari akan bias habis kamu makan, akan tetapi jika kamu saya ajari cara membuatnya, maka kamu akan mengetahui caranya.

Selanjutnya pada pertengahan abad XX, seorang ahli ekonomi terkenalJoseph A Schumpeter ( 1934 )
Melontarkan suatu istilah yang sampai saat ini sangat terkenal yaitu konsep creative destruction, yang menggambarkan bahwa seorng wirausaha pada umumnya melakukan perubahan yang sangat besar ataupun inivasi yang mengarah pada suatu nilai tambah. Pada hakikinya , nilai tambah tersebut sebenarnya  merupakan cirri khas yang membedakan apakah seseorang yang melakukan melakukan suatu usaha ( bisnis ) dapat dikategorikan sebagai seorang wirausahawan atau bukan.
Dalam perkembangannya, sekarang dikenal dengan adanya tiga kategori wirausaha yaitu:
1.       Wirausaha subsisten ( subsistence entrepreneur ), yaitu mereka yang berwira usaha hanya untuk mencukupi kebutuhan hidup diri dan keluarganya.
2.       Wirausaha potensial ( potential entrepreneur ) yaitu wirausaha yang masih bias dikembangkan pasarnya.

3.       Wirausaha yang memiliki pertumbuhan tinggi ( high growth entrepreneur ), yaitu wirausaha yang dapat mengembangkan produk, pasar, dan teknologinya. Sesungguhnya suatu Negara akan menjadi sejahtera apabila paling tidak ada 2% wirausaha, adlah wirausaha jenis ketiga tersebut.
Selanjutnya, marilah kita mengingat kembali kalimat-kalimat bijak lama yang perlu kita perhatikan: “ Berikan ikan untuk mereka makan sehari, berikan kail untuk mereka memancing setiap hari, dan berikan iklim yang kondusif untuk mereka memancing dan mendapatkan ikan selama hidupnya.”Untuk itu marilah kita cermati upaya berbagai pihak yang dikenal dengan sinergi “ C-ABG” dalam penumbuh kembang wirausaha.

“C” singkatan Community merupakan peran masyarakat, baik individu maupun kelompok dalam pengembangan kewirausahaa. Sedangkan “A” Academician merupakan peran dunia pendidikan, baik pendidikan dasar, pendidikan menengah, maupun pendidikan tinggi dalam menanamkan budaya ( nilai-nilai, sikap dan perilaku ) kewirausahaan terhadap anak didiknya. Selanjutnya “B” ( Businessperson ) yaitu par pelaku bisnis dalam keikut sertaannya membangun kewirausahaan di negeri ini, dan “G” Government atau pemerintah.
IV. Uraian mengenai upaya berbagai pihak


1.       UPAYA KOMUNITAS

Kelompok masyarakat atau komunitas ini sangat berperan dalam pengembangan wirausaha dari berbagai stara social yang berbeda. Dalam istilah modern mereka disebut sebagai social entrepreneur,  yaitumereka yang mempunyai jiwa wirausaha dan memanfaatkanya untuk pemberdayaan masyarakat. Termasuk dalam kelompok ini adalah para penggiat lembaga swadaya masyarakat (LSM), Organisasi social kemasyarakatan ( Ormas ), Lembaga keuangan mikro (LKM), Baitul maal waltamwil (BMT), Koperasi Jasa Keuangan (KJS), Pondok pesantren atau pusat-pusat keagamaan, dan lain-lain yang bergerak dibidang pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan jiwa dan praktek kewirausahaan. Berbeda dengan business entrepreneur yang memang tujuan utamanya mencari keuntungan financial, social entrepreneur mempunyai tujuan social pemberdayaan masyarakat melalui kewirausahaan. Mereka tidak secara langsung mencari keuntungan karna tujuanya adalah pemberdayaan mastarakat. Contoh nyata seorang social entrepreneur adalah yang telah disampaikan diatas, yaitu Muhamad Yunus dari Bangladesh. Tentunya masih banyak contoh yang lain baik yang ada didalam maupun luar negeri.

Didalam bukunya, Sosial entrepreneurship, Borstein dan Davis (2010) menyampaikan bahwa, memasuki abad ke 21 ini, Dunia ditandai dengan adanya perubahan dalam sejarah kemanusiaannya, dimana seseorang atau kelompok orang dapat mempengaruhi stabilitas Negara bahkan dunia internasional. Hal inilah yang memaksa pemerintah dimanapun dibelahan bumi ini, untuk memikirkan ulangtentang akar permasalahan keamanan umat manusia. Disamping adanya kekuatan baru individual maupun kelompok kecil masyarakat yang mempunyai kemampuan destruktif, sekelompok masyarakat lainnya juga memiliki kemampuan konstruktif. Itulah social entrepreneur.
Mereka bukan hanya berbeda dengan business entrepreneur , karena yang dicari bukan hanya keuntungan financial akan tetapi kemanfaatannya bagi masyarakat luas, tetapi juga berbeda dengan peran pemerintah karena social entrepreneur ini tidak bergerak dari atas kebawah tetapi sebaliknya dari bawah keatas. Disamping itu kalau pemerintah mempunyai kekuatan untuk menjatuhkan snksi hokum,social entrepreneur tidak memiliki otoritas untuk itu.  Namun tujuan hakikinya sama yaitu memajukan kesejahteraan masyarakat.

2.       UPAYA DUNIA PENDIDIKAN
Upaya dunia pendidikan baik dasar, menengah, maupun tinggi mempunyai peran yang sangat strategis dalam mendidik dan mempraktekan kewirausahaan. Mulai usia dini, anak didik harus dibekali dengan nilai-nialai, sikap dan perilaku kewirausahaan. Kita harus merubah pola piker yang ditinggalkan oleh penjajah belanda bahwa menjadi pegawai, itu lebih baik daripada memiliki usaha/bisnis sendiri. Pendidikan harus diubah orientasinya, dari penghasil lulusan yang berbondong-bondong menenteng ijazahnya ngantri mencari pekerjaan, menjadi lulusan pendidikan yang siap menciptakan lapangan pekerjaan paling tidak untuk dirinya sendiri.

Apabila tidak ada perubahan paradigma pendidikan kita, terutama pendidikan tinggi, maka meledaknya pengangguran pemuda terdidik akan menjadi kenyataan. Itulah kehawatiran semua pihak, karena pengangguran sejatinya adalah musuh bersama yang sangat membahayakan, baik bagi individu penganggur, keluarga, bangsa dan Negara, serta dunia internasional. Apalagi pengangguran itu menimpa para pemuda yang terdidik. Itu sangat berbahaya.

Untuk itu marilah kit aubah pola piker kita dan sekedar pinjam istilah yang sudah kondang mulai dari diri kita, mulai dari yang kecil, mulai sekarang juga. Yang dulu anak-anak dilatih membaca “ Budi pergi kepasar membeli pisang”, mari kita buat perubahan menjadi” Budi pergi kepasar menjual pisang”. Dari pola piker konsumtif ( Membeli dan menghabiskan ) menjadi pola piker yang produktif ( memproduksi dan memasarkan ). Pada dasarnya semua berangkat dari pola pikir seseorang.

ketahuilah bahwa kesuksesan diri anda bukan bergantung pada orang lain, akan tetapi kesuksesan anda adalah tergantung bagaimana cara anda untuk meraihnya....

Good Luck...

Last Episode

SLOT IKLAN 300x260

Tag :
Anda Sedang Membaca Semangat Kewirausahaan, Anda Sedang Berada di Artikel Semangat Kewirausahaan, Artikel terkait dengan Semangat Kewirausahaan, Anda bisa Share Artikel Semangat Kewirausahaan Jika menarik.
0 Komentar untuk "Semangat Kewirausahaan"